Sosio Drama Tanamkan Jiwa Patriotisme

    Kodim 0709/Kebumen Tanamkan Jiwa Patriotisme Melalui Sosio Drama Perjuangan

    Kodim 0709/Kebumen Tanamkan Jiwa Patriotisme Melalui Sosio Drama Perjuangan

    KODIM 0709/KEBUMEN, Tepat pada peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia ke-70 tahun 2015,  bertempat di lapangan alun-alun Kebumen digelar teatrikal sosio drama yang menggambarkan perjuangan Panglima Besar Jendral Soedirman dalam suatu perjuangan menghadapi Belanda, merupakan suatu kegiatan yang dilakukan sebagai upaya peningkatan dan penanaman jiwa nasionalisme serta cinta tanah air bagi para generasi bangsa, sebuah sajian anak bangsa yang memilik nilai luhur kepahlawanan dan patut menjadi tauladan dimasa sekarang, para peserta berupaya tampil maksimal di hadapan para undangan upacara, peserta upacara dan para penonton yang hadir memadati alun-alun, Senin (17/8/15).

    Sosio drama kali ini diikuti oleh para peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa dan masyarakat serta anggota Kodim, Sedikit cuplikan kisah yang dibawahkan para peserta sebagai berikut :

    PANGLIMA Besar Jenderal Soedirman mengeluarkan Perintah Kilat yang segera disebarkan kepada seluruh personel TNI untuk melakukan gerilya. Karena adanya Perintah Kilat ini, maka setiap tanggal 19 Desember diperingati sebagai Hari Infanteri atau Hari Juang Kartika TNI AD.

    Bahkan, Jenderal Soedirman meninggalkan Yogyakarta untuk memimpin gerilya dari luar kota. Perjalanan bergerilya selama delapan bulan ditempuh kurang lebih 1000 Km di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tidak jarang Soedirman harus ditandu atau digendong karena dalam keadaan sakit keras. Setelah berpindah-pindah dari beberapa desa rombongan Soedirman kembali ke Yogyakarta pada tanggal 10 Juli 1949.

    Kolonel A.H. Nasution, selaku Panglima Tentara dan Teritorium Jawa menyusun rencana pertahanan rakyat Totaliter yang kemudian dikenal sebagai Perintah Siasat No 1 Salah satu pokok isinya ialah : Tugas pasukan-pasukan yang berasal dari daerah-daerah federal adalah ber-wingate (menyusup ke belakang garis musuh) dan membentuk kantong-kantong gerilya sehingga seluruh Pulau Jawa akan menjadi medan gerilya yang luas.

    Salah satu pasukan yang harus melakukan wingate adalah pasukan Siliwangi. Pada tanggal 19 Desember 1948 bergeraklah pasukan Siliwangi dari Jawa Tengah menuju daerah-daerah kantong yang telah ditetapkan di Jawa Barat. Perjalanan ini dikenal dengan nama Long March Siliwangi. Perjalanan yang jauh, menyeberangi sungai, mendaki gunung, menuruni lembah, melawan rasa lapar dan letih dibayangi bahaya serangan musuh. Sesampainya di Jawa Barat mereka bergabung dengan DI/TII karena NII telah memproklamirkan kemerdekaannya pada wilayah-wilayah yang diduduki Belanda saat itu. Pada akhirnya sejarah mencatat dengan ketidakjelasan mengenai hal ini.

    Kurang lebih satu bulan setelah Agresi Militer Belanda II yang dilancarkan pada bulan Desember 1948, TNI mulai menyusun strategi guna melakukan pukulan balik terhadap tentara Belanda yang dimulai dengan memutuskan telepon, merusak jalan kereta api, menyerang konvoi Belanda, serta tindakan sabotase lainnya.

    Belanda terpaksa memperbanyak pos-pos disepanjang jalan-jalan besar yang menghubungkan kota-kota yang telah diduduki. Hal ini berarti kekuatan pasukan Belanda tersebar pada pos-pos kecil diseluruh daerah republik yang kini merupakan medan gerilya. Dalam keadaaan pasukan Belanda yang sudah terpencar-pencar, mulailah TNI melakukan serangan terhadap Belanda.

    Sekitar awal Februari 1948 di perbatasan Jawa Timur, Letkol. dr. Wiliater Hutagalung yang sejak September 1948 diangkat menjadi Perwira Teritorial dan ditugaskan untuk membentuk jaringan pesiapan gerilya di wilayah Divisi II dan III, bertemu dengan Panglima Besar Sudirman guna melaporkan mengenai resolusi Dewan Keamanan PBB dan penolakan Belanda terhadap resolusi tersebut dan melancarkan propaganda yang menyatakan bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada lagi. Melalui Radio Rimba Raya, Panglima Besar Sudirman juga telah mendengar berita tersebut. Panglima Besar Sudirman menginstruksikan untuk memikirkan langkah-langkah yang harus diambil guna mengcounter propaganda Belanda.

    Hutagalung yang membentuk jaringan di wilayah Divisi II dan III, dapat selalu berhubungan dengan Panglima Besar Sudirman, dan menjadi penghubung antara Panglima Besar Sudirman dengan Panglima Divisi II, Kolonel Gatot Subroto dan Panglima Divisi III, Kol. Bambang Sugeng. Selain itu, sebagai dokter spesialis paru, setiap ada kesempatan, ia juga ikut merawat Panglima Besar Sudirman yang saat itu menderita penyakit paru-paru. Peristiwa selanjutnya dikenal dengan Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta sebagai upaya untuk merebut kembali Yogyakarta dari kepungan Belanda. Sungguh istimewanya Yogyakarta karena sarat muatan sejarah perjuangan bangsa.

    Dandim 0709/Kebumen Letkol Inf Putra Widyawinaya, S.H mengatakan kegiatan ini bertujuan menanamkan jiwa patriotisme dan nasinalisme kebangsaan melalui gambaran sosio drama tentang perjuang saat itu, terkaitan jiwa patriotisme maka mereka kita pupuk agar memiliki rasa nasionalisme yang kuat, terlebih di tengah mulai terkikisnya rasa persatuan dan kesatuan diera globalisasi seperti sekarang ini. Sehingga diharapkan kegiatan ini dapat menggugah para pemuda Kebumen dalam membentengi tantangan dari berbagai pengaruh negatif, selain itu, melalui kegiatan tersebut, generasi muda Kebumen dapat merasakan bagaimana kejadian saat itu dalam menghadapi agresi Belanda.

    Dandim juga mengajak pada seluruh masyarakat, khususnya para generasi muda untuk menyalurkan bakat kreasinya. Pihaknya pun ingin memajukan dan memasyarakatkan sosio drama secara luas dan tetap menjalin hubungan kerjasama bersama insan seni dan pelaku seni di Kebumen.   “Kita berharap dapat mengharumkan nama Kebumen melalui kreasi pentas drama,” tandasnya. “Mereka rela mengorbankan jiwa raganya demi negara dan bangsa, berjuang merebut kemerdekaan, kita sebagai generasi penerus wajib melanjutkan jerih payah para pejuang agar kita jadi bangsa yang besar, bangsa yang menghargai pahlawannya,”ungkapnya.

    Lebih lanjut dikatakan, nilai-nilai perjuangan tersebut diharapkan diserap oleh para penerus bangsa supaya mereka menjadi generasi penerus bangsa yang berprestasi, solid, bermartabat, disegani dan terhindar dari berbagai pengaruh negatif yang dapat merusak jati diri dan karakter bangsa, dengan demikian pastilah mereka akan menjadi para pemimpin dan penerus bangsa di masa depan yang tangguh, yang dapat membangun serta mempertahankan tegaknya kedaulatan dan keutuhan NKRI dari berbagai ancamannya.

    Bagikan

    Mungkin Anda juga menyukai

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *