Dampak TI Terhadap Perilaku Kekerasan Dikalangan Generasi Muda

Dampak TI Terhadap Perilaku Kekerasan Dikalangan Generasi Muda

Dampak TI Terhadap Perilaku Kekerasan Dikalangan Generasi Muda

KODIM 0709/KEBUMEN,     Kasi Infrastruktur dan Teknologi Dinas Kominfo Kab. Kebumen Moch. Nasir, SH, M.Eng memberikan penjelasan terkait dampak teknologi informasi terhadap perilaku kekerasan dikalangan generasi muda kepada 140 orang Danramil dan Babinsa bertempat di Aula Kodim 0709/Kebumen, Selasa (30/10/18). Tujuan diselenggarakannya kegiatan ini untuk meningkatkan kemampuan aparat komando kewilayahan (Apkowil) dikaitkan dengan arus perkembangan Teknologi Informasi guna mendukung tugas pokok Babinsa dalam pelaksanaan pembinaan wilayah secara terpadu dan terencana serta didapat data yang akurat dan obyektif dilapangan.

Acara yang dibuka oleh Danramil 09/Kutowinangun Kapten Arh Suwarno yang membacakan amanat Dandim 0709/Kebumen mengatakan, “Jadikan kegiatan ini, sebagai barometer bagi kita selaku aparat kewilayahan mulai Danramil sampai dengan Babinsa guna menunjang tugas pokok Kodim dengan tujuan sebagai bekal tugas pemberdayaan wilayah pertahanan darat melalui kegiatan metode Binter di lapangan sekaligus untuk meningkatkan kualitas dan produktifitas kerja. Kegiatan ini juga merupakan bagian yang sangat penting bagi kesiapan seluruh aparat kewilayahan dalam menjalankan fungsi pembinaan teritorial sekaligus sebagai fungsi utama TNI AD. Jadikanlah kegiatan ini sebagai suatu kehormatan tersendiri guna menunjang setiap pelaksanaan tugas di lapangan. Kepada seluruh Prajurit Kodim 0709/Kebumen suatu keharusan dalam berbaur dan beradaptasi bersama lingkungannya dengan baik, sehingga bisa diterima oleh segenap lapisan masyarakat serta menjadikan masyarakat binaan sebagai sahabat dan mitra kerja kita.” Katanya.

Usai dibuka Danramil kegiatan dilanjutkan dengan pemberian materi oleh Kasi Infrastruktur dan Teknologi Dinas Kominfo Kab. Kebumen Moch. Nasir, SH, M.Eng tentang dampak teknologi informasi terhadap perilaku kekerasan dikalangan generasi muda. Nasir mengatakan, “kejahatan komputer yang ditujukan kepada sistem atau jaringan komputer, yang mencakup segala bentuk baru kejahatan yang menggunakan bantuan sarana media elektronik internet. Cyber Crime merupakan suatu tindak kejahatan didunia alam maya, yang dianggap bertentangan atau melawan undang-undang yang berlaku.

Ciri – ciri Cybercrime

-Terdapat penggunaan technology informasi

-Alat bukti digital

-Pelaksanaan kejahatan berupa kejahatan nonfisik (cyberspace)

-Proses penyidikan melibatkan laboratorium forensic komputer

-Sifat kejahatanà Bersifat non-violence (Tidak menimbulkan kekacauan yang mudah terlihat)

-Dalam proses persidangan, keterangan ahli menggunakan ahli TI.

Selain Cybercrime, Nasir juga menjelaskan tentang Cyber Bullying, yakni tindakan yang dilakukan secara sadar untuk merugikan atau menyakiti orang lain melalui penggunaan komputer (jejaring sosial dunia maya) ,telepon seluler dan peralatan elektronik lainnya. Segala bentuk kekerasan (diejek, dihina, diintimidasi, atau dipermalukan) yang dialami anak/remaja dan dilakukan teman seusia mereka melalui dunia cyber atau internet,teknologi digital atau telepon seluler.

Cyber bullying dianggap valid bila pelaku dan korban berusia di bawah 18 tahun dan secara hukum belum dianggap dewasa. Bila salah satu pihak yang terlibat (atau keduanya) sudah berusia di atas 18 tahun, maka dikategorikan sebagai cyber crime atau  cyber stalking / cyber harassment.

Bentuk – bentuk Cyber- Bullying ?

  1. Flaming (perselisihan yang menyebar), yaitu ketika suatu perselisihan yang awalnya terjadi antara 2 orang (dalam skala kecil) dan kemudian menyebarluas sehingga melibatkan banyak orang (dalam skala besar) sehingga menjadi suatu permasalahan besar;
  2. Harrasment (pelecehan), yaitu upaya seseorang untuk melecehkan orang lain dengan mengirim berbagai bentuk pesan baik tulisan maupun gambar yang bersifat menyakiti, menghina, memalukan, dan mengancam;
  3. Denigration (fitnah), yaitu upaya seseorang menyebarkan kabar bohong yang bertujuan merusak reputasi orang lain;
  4. Impersonation (meniru), yaitu upaya seseorang berpura-pura menjadi orang lain dan mengupayakan pihak ketiga menceritakan hal-hal yang bersifat rahasia;
  5. Outing and trickery (penipuan), yaitu upaya seseorang yang berpura-pura menjadi orang lain dan menyebarkan kabar bohong atau rahasia orang lain tersebut atau pihak ketiga;
  6. Exclusion (pengucilan), yaitu upaya yang bersifat mengucilkan atau mengecualikan seseorang untuk bergabung dalam suatu kelompok atau komunitas atas alasan yang diskriminatif;
  7. Cyber-stalking (penguntitan di dunia maya), yaitu upaya seseorang menguntit atau mengikuti orang lain dalam dunia maya dan menimbulkan gangguan bagi orang lain tersebut.

Praktek Cyber bullying yang sering dilakukan

  1. Melakukan Missed call berulang – ulang
  2. Mengirimkan email /sms berisi hinaan/ ancaman
  3. Menyebarkan gosip yang tidak menyenangkan lewat sms, email, komentar di jejaring sosial (Path, Facebook, twitter)
  4. Pencuri Identitas Online (membuat profile palsu kemudian melakukan aktivitas yang merusak nama baik seseorang)
  5. Berbagi gambar pribadi tanpa ijin
  6. Menggugah informasi atau video pribadi tanpa ijin
  7. Membuat blog berisi keburukan terhadap seseorang.

Pada penghujung materi, Nasir juga menambahkan tentang sistem pengamanan dalam menghadapi permasalahan tersebut yakni dengan meningkatkan sistem pengamanan jaringan komputer nasional sesuai standar internasional, meningkatkan pemahaman serta keahlian aparatur penegak hukum mengenai upaya pencegahan, investigasi dan penuntutan perkara-perkara yang berhubungan dengan cybercrime, meningkatkan kesadaran warga negara mengenai masalah cybercrime serta pentingnya mencegah kejahatan tersebut terjadi, meningkatkan kerjasama antar negara, baik bilateral, regional maupun multilateral, dalam upaya penanganan cybercrime, antara lain melalui perjanjian ekstradisi dan mutual assistance treaties, jangan merespon dan membalas aksi. Para pelaku bullying selalu menunggu-nunggu reaksi korban, simpan semua bukti. Di media digital, korban dapat meng-capture, menyimpan pesan, gambar/materi yang dikirim pelaku, untuk kemudian menjadikannya sebagai barang bukti saat melapor ke pihak yang bisa membantu, simpan semua bukti yang dikirim pelaku, untuk kemudian menjadikannya sebagai barang bukti saat melapor ke pihak yang bisa membantu, selalu berperilaku sopan di dunia maya dan gunakan segala bentuk media komunikasi seperti komputer, internet, telepon seluler, tablet dan peralatan elektronik lainnya untuk hal-hal positif dan tujuan damai. Paparnya.

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *