Dialog Ratih TV Pancasila di Dadaku, Dandim Minta Hidupkan P4

Dialog Ratih TV Pancasila di Dadaku, Dandim Minta Hidupkan P4

KODIM 0709/KEBUMEN. Dandim 0709/Kebumen Letkol Inf Zamril Philiang melaksanakan kegiatan dialog interaktif Pancasila di Dadaku bertempat di Studio Ratih TV secara live Jalan Kutoarjo No. 6 Panjer – Kebumen dalam rangka peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Senin malam (30/09/19).

Beberapa pertanyaan reporter Ratih TV mampu dijawab Dandim dalam dialognya, Dandim 0709/Kebumen juga memberikan penjelasan, tentang pengaruh arus informasi yang begitu pesat tentu akan sangat mengacam apabila kita tidak memiliki filter yang kuat. Begitu besarnya pengaruh tersebut, suatu contoh situs jejaring sosial dalam beberapa tahun belakangan ini menjadi topik utama bagi masyarakat khususnya generasi muda dari keterisolasian dan keterbelakangan mereka dari dunia luar yang ‘liar’.

Betapa tidak, MEDSOS yang didesain untuk situs pertemanan yang semestinya sudah berubah menjadi situs ‘pertemanan’ dengan bumbu dan aroma yang mempesona dan mampu memperdaya mereka para gadis dibawah umur untuk dijadikan objek perdagangan dan pelecehan seksual. Sifat anak yang mudah percaya pada siapapun memungkinkan terjadinya hal tersebut.

Secara psikologis remaja/generasi muda memang belum berpikir logis dan masih labil. Mereka masih sulit membedakan mana teman kenalan yang benar-benar baik dan mana sebenarnya teman kenalan yang dapat menjadi dampak negatif yang mampu memperdaya dan menggiring mereka menjadi objek perdagangan dan pelecehan seksual. Kiranya peran orang tua dan para pendidik sangat penting untuk mengarahkan dan membimbing generasi muda dari cengkraman kejahatan kemajuan teknologi modern khususnya media sosial ini.

Banyak yang tidak menyadari akan pengaruh negatif teknologi khususnya MEDSOS ini. Mungkin karena sudah kecanduan dan nyaman dengan MEDSOS tapi justru inilah yang berbahaya. Pengguna internet atau khususnya Medsos lainnya didominasi oleh para remaja usia 14-24 tahun. Akibatnya menjadi ancaman terhadap merosotnya nilai-nilai pribadi bangsa dan implementasi Pancasila di kalangan generasi muda, kita contohkan saja :

Tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Orang yang terlalu asyik dengan dunia yang diciptakannya sendiri sehingga tidak peduli dengan orang-orang atau lingkungan disekitarnya. Hal ini sering dilakukan orang yang kecanduan internet atau media sosial.

Minimnya sosialisasi dengan lingkungan. Ini dampak dari terlalu sering dan terlalu lama bermain internet atau Medsos, akan mengkhawatirkan bagi perkembangan kehidupan sosial generasi muda. Mereka yang seharusnya belajar bersosialisasi dengan lingkungan justru lebih banyak menghabiskan waktu pada dunia mayanya yang rata-rata membahas sesuatu yang nggak penting. Akibatnya kemampuan verbal pelajar menurun. 

Boros. Akses internet jelas berpengaruh terhadap kondisi keuangan dan biaya internet di Indonesia yang cenderung masih mahal bila dibanding negara-negara lain (mereka sudah banyak yang gratis). Ini sudah bisa dikategorikan sebagai pemborosan, karena tidak produktif. Lain soal jika mereka menggunakannya untuk kepentingan yang bermanfaat.

Mengganggu kesehatan. Terlalu banyak melihat di depan monitor tanpa melakukan kegiatan apa pun, tidak pernah olah raga sangat beresiko bagi kesehatan. Penyakit akan mudah datang. Telat makan dan tidur tidak teratur. Obesitas, penyakit lambung, gangguan pencernaan, dan penyakit mata adalah gangguan kesehatan yang paling mungkin terjadi.

Waktu belajar berkurang. Ini sudah jelas, terlalu lama bermain internet atau Medsos akan mengurangi jatah waktu belajar si pelajar. Bahkan ada beberapa yang masih asyik bermain facebook, WhatsApp, Line, Instagram atau Medsos lainnya saat jam sekolah.

Kurangnya perhatian untuk keluarga.  Keluarga di rumah adalah nomor satu. Slogan tersebut tidak lagi berlaku bagi para pecandu Medsos. Buat mereka temen-temen di jejaring sosial adalah nomor satu. Tidak jarang perhatian mereka terhadap keluarga menjadi berkurang.

Tersebarnya data pribadi.  Beberapa media sosial memberikan data mengenai dirinya dengan sangat detail. Biasanya ini untuk orang yang baru dikenal di internet hanya sebatas Medsos saja. Mereka tidak tahu resikonya menyebarkan data pribadi di jejaring sosial.

Mudah menemukan sesuatu berbau pornografi dan sex. Mudah sekali bagi para pecandu internet menemukan sesuatu yang berbau pornografi dan sex. Karena kedua hal itu yang paling banyak dicari di internet dan juga paling mudah ditemukan. Inilah fakta tidak dewasanya pengguna internet Indonesia. Di media sosial akan sangat mudah menemukan grup berbau sex.

Rawan terjadinya perselisihan.  Tidak adanya kontrol dari pengelola jaringan internet khususnya Medsos terhadap para anggotanya dan ketidakdewasaan para penggunanya akan memicu gesekan antar pengguna Medsos.

Rawan penipuan. Medsos juga rawan terhadap penipuan seperti media-media lainnya, Apalagi bagi anak-anak pelajar yang kurang mengerti tentang seluk beluk dunia internet. Bagi si penipu sendiri, kondisi dunia maya yang serba anonim jelas sangat menguntungkan. Belakangan penipuan via Medsos kian merajalela. 

Filter yang utama yakni dengan membangun karakter luhur sebagai upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan suatu perilaku yang meliputi adat istiadat, nilai-nilai kejuangan, potensi, kemampuan, bakat dan pikiran generasi muda melalui peran :

Peran Orang Tua.   Orang tua harus selalu mengawasi atau jadi pendamping bagi putra putrinya dalam penggunaan teknologi informasi baik berupa internet, televisi, ataupun handphone agar terhindar dari dampak buruk kemajuan arus informasi. Mengenalkan komputer atau handphone berbasis androit dan internet berarti pula mengenalkan manfaatnya dan tujuan penggunaannya. Selanjutnya orang tua harus dapat mengontrol dan memantau sejauh mana penggunaan komputer atau handphone berbasis androit dan internet tersebut pada putra putrinya seperti misalnya memasang software yang dirancang khusus untuk melindungi kesehatan anak. Misalnya program nany chip atau parents lock yang dapat memproteksi anak dengan mengunci segala akses yang berbau seks dan kekerasan. Mengatur peletakkan komputer di ruang publik rumah, seperti perpustakaan, ruang keluarga, dan bukan di dalam kamar anak. Memberikan batasan waktu dan jadwal dalam penggunaannya.

Peran Masyarakat. Kita harus bisa melestarikan kebudayaan bangsa yang sekarang semakin terkikis oleh budaya bangsa lain akibat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Dan memfilter budaya-budaya negatif yang datang melalui teknologi informasi.

Peran Pemerintah.  Pemerintah sebaiknya membuat suatu kebijakan yang dapat mengontrol penggunaan teknologi informasi dan komunikasi tersebut supaya tidak berdampak negatif terhadap kebudayaan bangsa kita. 

Sedangkan metode yang asyik dan menyenangkan bagi generasi muda yakni : 

Menggali dan pengembangan bakat.   Melakukan pembinaan generasi muda dengan cara menggali potensi dan menyalurkan kemampuannya melalui kegiatan keagamaan, olah raga, seni budaya, berorganisasi (karangtaruna) dan karya wisata dengan tujuan untuk membentuk moral dan karakter bangsa sehingga akan tertanam sikap dan perilaku dengan prinsip dasar dari nilai-nilai Pancasila, yang hakekatnya akan mengarah pada munculnya aspek positif yang mampu mengembangkan akal, pikiran, akhlak, dan kemampuan sosialnya untuk melahirkan generasi bangsa yang bermartabat.

Membuat gerakan berbasis wirausaha. Yakni untuk percepatan mengatasi masalah ekonomi dan kesenjangan sosial.

Bentuk komunitas belajar.     Melalui kegiatan ini para generasi muda dapat meningkatkan dan mengembangkan kemampuan adaptasi dan kedewasaan. 

Hidupkan kembali penataran P4.   Dengan dihidupkannya kembali penataran Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila (P4) kepada segenap lapisan masyarakat termasuk kalangan para generasi muda, maka secara tidak langsung akan terwujud pemahaman tentang dasar falsafah negara dan bagaimana pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga akan mengurangi konflik-konflik yang terjadi di Negara kita. 

Kedekatan terhadap peran para generasi muda. Jadikan ideologi Pancasila sebagai humanis, religius, nasionalis dan berkeadilan, secara obyektif dan ilmiah (bukan doktriner) dengan metode sesuai perkembangan zaman. Meningkatkan pendidikan norma agama, adat istiadat dan bimbingan dari orang tua, sehingga tata sopan santun dapat ditanamkan dan diajarkan pada para generasi muda. Pengamalan nilai- nilai Pancasila pun sesungguhnya cukup mudah untuk dilakukan, yaitu dengan cara mengembangkan sikap saling hormat menghormati atar pemeluk agama yang sama maupun berbeda, tidak berprilaku semena-mena terhadap orang lain, membantu teman yang terkena musibah sesuai kemampuan, menghargai produk dalam negeri, melakukan musyawarah mufakat dalam pengambilan keputusan, mengembangkan perbuatan luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.

Kesimpulannya.   Perkembangan arus informasi membawa perubahan dalam kehidupan budaya kita yang tak dapat kita hindari, khususnya bagi generasi muda. Akan tetapi, dapat dibentengi dengan  melakukan tindakan yang bijaksana terhadap diri sendiri, keluarga dan juga masyarakat luas agar kemajuan arus informasi yang semakin pesat  tidak sampai menggeser jati diri sebagai manusia yang memiliki norma dan nilai-nilai budi pekerti luhur Pancasila.

Orang tua juga harus melakukan suatu tindakan representative dan preventif, agar semaksimal mungkin dapat mencegah pengaruh negatif dari arus informasi terhadap generasi muda yang merupakan generasi emas yang akan menjadi kader pemimpin bangsa dimasa datang. Upayakan dengan menumbuhkembangkan dan menghidupkan kembali penataran Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila (P4) di semua sendi kehidupan agar pengaruh arus informasi bisa menjadi hal yang positif dan tidak menjerumuskan pada kekejaman teknologi yang pada akhirnya merusak tatanan budaya generasi muda itu sendiri.

Generasi muda adalah kelompok masyarakat yang sangat rentan terhadap pengaruh budaya asing, sehingga dalam membangun sosial budaya, diperlukan pendidikan karakter, agar generasi muda dapat menyerap dampak positif dan membentengi diri dari dampak negatif arus informasi atau teknologi informasi. Sebagai tumpuan bangsa dan penerus pembangunan di segala bidang, generasi muda harus dibekali sedini mungkin dengan ilmu pengetahuan tentang tata cara mengambil manfaat positif dari kemajuan teknologi informasi yang berkembang dengan  pesat seperti sekarang ini.” Jelas Dandim (Pendim).

 

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *