Sejarah Kodim 0709 Kebumen

Bagunan Makodim-0709/Kebumen saat masih menjadi pabrik mexolie, foto tahun 1900-an

Bagunan Makodim-0709/Kebumen saat masih menjadi pabrik mexolie, foto tahun 1900-an

Bagunan Makodim-0709/Kebumen saat masih menjadi pabrik mexolie, foto tahun 1900-an

Bagunan Makodim-0709/Kebumen saat masih menjadi pabrik mexolie, foto tahun 1900-an

Lapangan tenis depan Makodim 0709/Kebumen, foto tahun 1951.

Lapangan tenis depan Makodim 0709/Kebumen, foto tahun 1951.

Makodim 0709/Kebumen saat itu masih bernama PDM, foto tahun 1961

Makodim 0709/Kebumen saat itu masih bernama PDM, foto tahun 1961

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Tanggal 24 Agustus 1945 (sehari setelah seruan Presiden tentang Pembentukan Badan Keamanan Rakyat), Eks Chudancho Soedrajat, bersama 400 orang Laskar/Pemuda melakukan perlucutan senjata, amunisi dan peralatan militer Jepang serta pengambilalihan markas KEMPETAI di kompleks Pabrik NV. Mexolie Panjer – Kebumen (kini Sari Nabati), dan beberapa lokasi lain di dalam kota Kebumen yang pada saat itu dihuni oleh Perwira Jepang.
  1. Berdasarkan Maklumat Pemerintah tanggal 5 Oktober 1945 dibentuklah Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Batalion III/Resimen Moekahar/Divisi V Purwokerto pimpinan Kolonel Soedirman berkedudukan di kompleks Pabrik NV. Mexolie/Sari Nabati, eks Pabrik Gula/Gor Gembira dan eks Gedung Kepatihan/MAN II Kebumen di desa Panjer dipimpin oleh Mayor Soedrajat kemudian digantikan oleh Mayor R. P. S. Rachmat. Adapun Bengkel Produksi Senjata bertempat di Sekolah Teknik (kini SMP N 7 Kebumen). Pada tanggal 25 Maret 1947 diserahkan kepada Kementerian Pertahanan di Yogyakarta.
  1. Berdasarkan Penetapan Pemerintah No. 2 Tanggal 7 Januari 1946 Tentara Keamanan Rakyat diubah menjadi Tentara Keselamatan Rakyat. Kemudian disusul dengan adanya Dekrit Presiden tanggal 26 Januari 1946, Tentara Keselamatan Rakyat disempurnakan dan ditingkatkan statusnya menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI). Batalion III berubah nama menjadi Batalion 64/Resimen XX/Divisi III/Pangeran Diponegoro dipimpin oleh Mayor R. P. S. Rachmat. Pada bulan Juni 1947 guna mempersiapkan berbagai kemungkinan adanya pelanggaran Belanda terhadap Perundingan Linggarjati (Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947) Markas batalion pindah ke Prembun menempati bekas pabrik gula Prembun (pada masa kependudukan Jepang menjadi Asrama Tentara Peta).
  1. Sesuai dengan Keputusan Presiden pada tanggal 3 Juni 1947 Tentara Republik Indonesia (TRI) diubah menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI), dimuat dalam Berita Negara Tahun 1947 No. 24. Batalion 62 dan 64/Resimen XX/Purworejo masuk ke dalam Brigade Mataram. Komandan Batalyon 62 adalah Mayor Panoedjoe dan Komandan Batalyon 64 adalah Mayor R. S. Rachmat.
  1. Comando Operasi Pertahanan Daerah Kedu Selatan (COP PDKS) dibentuk di Kebumen pada tanggal 5 Agustus 1947 (beberapa hari setelah Belanda menduduki Gombong) oleh Direktur Jenderal Angkatan Darat (DDAD) Jenderal Mayor Abdoel Kadir yang pada saat itu bermarkas di Kebumen. Fungsi COP PDKS sebagai pertahanan terluar Republik Indonesia di wilayah barat guna menahan Belanda ke Yogyakarta. Komandan COP Kebumen pertama dijabat oleh Letkol Koen Kamdani (Komandan Resimen XX), lalu oleh Mayor Soedjono dari Resimen XXII, dan terakhir ketika Agresi Militer II dijabat oleh Mayor R. P. S. Rachmat, Komandan Batalyon Teritorial Kedu V di Kebumen. COP PDKS berkedudukan di kompleks Pabrik NV. Mexolie/Sari Nabati, eks Pabrik Gula/Gor Gembira, eks Gedung Kepatihan/MAN II Kebumen di desa Panjer dan bekas rumah dr. Goelarso Sosrohadi Koesoemo, Kepala RSU Kebumen (kini Sekolah Taman Dewasa).
  1. Pada Tanggal 19 Desember 1948 (Agresi Militer Belanda II) Kompleks Pabrik NV. Mexolie yang tengah dibumihanguskan oleh TNI dapat diduduki Belanda setelah menerobos garis status quo di Kemit. 4 Pejuang pelaksana bumi hangus dieksekusi di lapangan tenis Mexolie. Selanjutnya Kompleks Mexolie dijadikan markas Koninklijk Leger (KL).
  1. Demi keselamatan Negara Republik Indonesia Pada tanggal 25 Desember 1948 dikeluarkan Instruksi Bekerja Pemerintah Militer Seluruh Jawa dengan No. 1/MBKD/1948. Berdasarkan instruksi tersebut pemerintahan tertinggi adalah Pemerintahan Militer. Semua alat kekuasaan negara di bawah militer, semua badan dan jawatan yang penting dimiliterisasi, serta berlakunya hukum militer. Pemerintah Daerah Militer Kebumen segera di bentuk. Menjabat sebagai Komandan PDM Kebumen pertama adalah Mayor R. P. S. Rachmat selaku Komandan Komando Distrik Militer/KDM. Adapun PDM pada awal dibentuk disebut juga Pemerintahan Gerilya sebab berada di tempat – tempat tersembunyi yang tidak dapat diketahui oleh Belanda. PDM Kebumen sejak dibentuk mengalami perpindahan beberapa kali yakni:
  • Di Dukuh Brondong, Kemejing, Kecamatan Wadaslintang dengan Komandan Mayor R. S. Rahmat (hingga bulan Agustus 1949).
  • Sejak 13 Agustus 1949 (Gencatan Senjata) sampai dengan masa penyerahan Belanda ke RI pada tanggal 27 Desember 1949 menggunakan Kantor Kecamatan Alian.
  • Mulai 27 Desember 1949 kembali menggunakan Kompleks Pabrik NV. Mexolie yang pada saat Agresi Militer Belanda II menjadi markas KL (Koninklijk Leger).
  1. Berdasarkan Undang – Undang No. 13 tahun 1956 yang ditetapkan pada tanggal 3 Mei 1956 maka Hubungan Indonesia dan Belanda berdasarkan perjanjian Konfrensi Meja Bundar batal. Perusahaan Belanda NV. Mexolie Kebumen dinasionalisasi. Pengambilalihan dari pemerintah Belanda dilaksanakan oleh Mayor Soedjono dan Komandan PDM Kebumen Kapten R. Soehada Koesoemawardadja pada bulan Januari 1958. Mexolie kemudian diubah namanya menjadi Nabati Yasa dan sebagai Direktur Utamanya adalah Mayor Soedjono (1958 – 1961).
  1. Pada tahun 1962 Pemerintah Daerah Militer (PDM) berubah nama menjadi Komando Distrik Militer (KODIM), termasuk juga PDM Kebumen berubah menjadi KODIM 0709/Kebumen.

 

Kebumen, 10 November 2012
Komandan Kodim 0709/Kebumen
(Periode 2011 – 2014)

Dany Rakca A, S. AP
Letnan Kolonel Inf
NRP 1920031270470